KISAH INSPIRATIF: DARI SARJANA PSIKOLOGI JADI PETANI HIDROPONIK






"Kenapa sih ga mau jadi petani?, kenapa sih ga mau jadi tukang sayur?" ungkap Faris seorang tukang sayur hidroponik kepada tim capcapung production.
    Tak bisa dipungkiri lagi bahwa lahan persawahan di Indonesia Khususnya di DIY mulai berkurang. Hal ini ditandai dengan berdirinya bangunan-bangunan baru dan juga perumahan. kalau seperti ini terus, maka lahan akan semakin berkurang dan harga tanaman akan semakin meningkat.Punya latar belakang yang berbeda, sarjana psikologi ini memilih banting setir menjadi tukang sayur. Awalnya orangtua faris kecewa dan menolak keras pilihan ini.

    Awal mula Faris bermain di hidroponik adalah saat ia datang ke Jogja dan melihat bahwa lahan pertanian semakin berkurang digantikan dengan bangunan-bangunan dan juga perumahan. Kalau hal ini dibiarkan, maka akan berakibat buruk bagi petani Indonesia.Tantangan menjadi seorang petani bagi Faris adalah orang tua. Awalnya orang tua Faris tidak setuju kalau anaknya menjadi petani karena Faris memiliki latar belakang sarjana psikologi dan sedang menempuh magister profesi psikologi. Hal ini membuat orang tuanya kecewa dan berseteru dengan dirinya, sampai akhirnya orang tuanya menyetujui keputusan anakanya tersebut.

    Di pertengahan tahun 2017, Faris kesulitan mencari lahan karena keterbatasan biaya menjadi salah satu penghalangnya. Tetapi hal tersebut bukanlah alasan bagi hidroponik, karena tidak membutuhkan tahan yang luas. Lahan hidroponik yang ia kembangkan berada di atas masjid dengan bantuan pengurus masjid, pemuda, dan tokoh masyarakat setempat.
"Banyak orang-orang baik disekitar kita. Ketika kita berlaku baik pada orang, maka kebaikan itu akan berbalik kepada kita", imbuhnya.






    Tanaman yang dibudidayakan adalah tanaman-tanaman yang sederhana saja, seperti kangkung, bayam merah, selada, caisim, pakcoy, dan paprika. Untuk tanaman kangkung, bisa dipanen dua minggu setelah tanaman, sehingga ini cukup menarik untuk diterapkan. Dengan lahan yang ada, penghasilan perbulan yang didapatkan dari hidroponik ini bisa menhasilkan 1,5 juta jika dimanajemen dengan bagus.





    Hasil kebun Faris tidak langsung dijual ke supermarket, restoran ataupun hotel seperti pada umumnya. Dia dan teman-teman meyakinkan hasil pertaniannya untuk ditawarkan terlebih dahulu kepada pedagang pasar tradisional dengan harapan mereka juga mendapatkan manfaat ekonomisnya. Di sisi lain, iya percaya bahwa semua orang layak mendapatkan sayur-sayuran yang sehat.

    Faris bangga menjadi petani karena petani adalah pekerjaan yang mulia. Cita-cita terbesarnya adalah membuat semua petani di indonesia menggunakan teknologi yang up to date, hidroponik salah satunya. Dengan adanya teknologi pertanian yang sangat berkembang saat ini, ia berharap tidak ada lagi anak-anak muda yang takut memegang cangkul, tidak ada lagi anak-anak muda yang takut bersentuhan dengan tanah, tidak ada lagi anak-anak muda yang takut nyemplung ke sawah. Pemuda jangan pernah takut untuk bertani.






Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

BMC (BUSINESS MODEL CANVAS): BISNIS DONAT UBI UNGU